Nyeri Berlebihan Waktu Menstruasi? Mungkin Kamu Alami Dismenore

Womenhealthypedia

Ditulis oleh:

Womenhealthypedia

31 August 2021

Share artikel ini:


Photo by Polina Zimmerman from Pexels

Menjelang masa menstruasi, hal yang paling sering dikeluhkan perempuan adalah kram perut. Sering dikenal sebagai gejala PMS, rasa nyeri ini kadang cukup mengganggu aktivitas dan bikin kita jadi
mager alias males gerak. Tapi kalau rasa sakitnya berlebihan dan terasa hingga ke area vagina, mungkin yang kamu alami bukan gejala PMS.

Kram perut yang berlebihan bisa jadi merupakan gejala dismenore. Walaupun mirip, ternyata keduanya berbeda, lho! Hmm, apa ya bedanya dengan PMS?

Dalam satu siklus haid, beberapa hormon dalam tubuh mengalami perubahan. Salah satunya hormon estrogen yang meningkat saat memasuki masa subur. Hormon ini berfungsi untuk menyiapkan masa ovulasi dan membantu penebalan dinding rahim.

Namun saat ternyata nggak terjadi pembuahan, kadar estrogen akan turun sampai masa menstruasi tiba. Perubahan hormon estrogen inilah yang dipercaya menyebabkan gejala PMS, seperti kram perut hingga sakit kepala.

Lalu, apa yang membedakan gejala kram perut pada PMS dan dismenore?

Nyeri di sekitar perut bagian bawah pada dismenore bukan disebabkan karena perubahan hormon, namun biasanya karena kontraksi rahim yang terlalu kuat atau faktor penyakit lainnya.


Photo by Sora Shimazaki from Pexels

Saat menstruasi, rahim melakukan kontraksi untuk meluruhkan dinding rahim dan keluar lewat vagina dalam bentuk darah haid. Nah, ternyata kontraksi rahim yang terlalu kuat ini bisa menekan pembuluh darah di sekitarnya. Akhirnya jaringan otot sulit mendapatkan oksigen dari pembuluh darah dan menimbulkan rasa nyeri di sekitar perut hingga ke area vagina.

Nyeri di sekitar perut dan vagina karena kontraksi rahim disebut dengan dismenore primer dan wajar dialami perempuan. Untuk mencegahnya, kamu bisa melakukan olahraga teratur dan rutin mengonsumsi makanan sehat.

Namun, terdapat juga dismenore sekunder yang perlu kamu waspadai, nih! Soalnya, dismenore sekunder disebabkan karena penyakit atau kelainan di organ reproduksi perempuan.

Beberapa penyakit yang merupakan faktor dismenore sekunder dan perlu kamu waspadai adalah:

1. Endometriosis


Endometriosis merupakan kondisi saat jaringan yang membentuk lapisan dalam dinding rahim tumbuh di luar rahim. Jaringan yang disebut endometrium ini ikut menebal saat tubuh memasuki masa subur, namun nggak bisa ikut meluruh dan keluar dari tubuh saat masa menstruasi. 

Nah, karena endometrium tumbuh di luar rahim hingga di vagina, hal ini menyebabkan rasa sakit dan nyeri hebat saat menstruasi. Gejala lain yang biasanya timbul adalah volume darah haid yang berlebihan, serta terdapat darah pada feses atau urine.

2. Penyakit radang panggul

Photo by Polina Zimmerman from Pexels

Radang panggul atau lebih sering disebut PID (
pelvic inflammatory disease) disebabkan karena infeksi yang menyebar dari vagina atau serviks ke organ reproduksi lainnya seperti rahim dan ovarium.

Umumnya jenis bakteri yang memicu penyakit ini adalah bakteri penyebab infeksi menular seksual. Gejala lain dari PID biasanya nyeri ketika buang air kecil dan pendarahan di luar masa menstruasi.

3. Fibroid rahim

Penyakit ini merupakan tumor yang tumbuh di rahim dan bersifat jinak (non-kanker). Penyebab pastinya belum diketahui, tapi menurut beberapa penelitian fibroid bisa disebabkan karena kadar estrogen yang tinggi atau faktor genetik. Walaupun jinak, fibroid bisa membuat masa menstruasi lebih lama, memperparah dismenore, hingga menyebabkan anemia.

Diagnosa dan penanganan yang tepat untuk dismenore sekunder tentunya memerlukan konsultasi atau pemeriksaan fisik oleh dokter. 

Jika kamu merasa mengalami gejala di atas, ada baiknya segera periksakan agar lebih cepat ditangani. Semoga dengan mengenali gejalanya, kamu jadi lebih tau tindakan apa yang harus kamu lakukan, ya!


 

 

Other Articles